Texasheritagesociety.org – Pembunuhan adalah aktivitas mengambil nyawa orang lain dengan cara yang ilegal atau melanggar hukum.Pembunuhan biasanya ada dorongan dari berbagai motif seperti politik, kecemburuan, balas dendam, pembelaan diri dll.Pembunuhan juga bisa dilakukan dengan berbagai cara. Yang paling umum adalah penggunaan senjata api atau senjata tajam. Anda juga bisa menggunakan bahan peledak seperti bahan peledak untuk membunuh.

Kasus Angelin menghilang dan ditemukan tewas di halaman rumahnya, yang menarik perhatian orang-orang di seluruh negeri. Pembunuhan terhadap anak yang tidak bisa dipertahankan bukanlah yang pertama di Indonesia, banyak pembunuhan di tanah air yang mengecewakan anak-anak. Berikut kami merangkum beberaapa kasus pembunuhan anak paling sadis di indonesia :

 

1. Balita dibunuh oleh ayah kandung, Samarinda

Polisi setempat mengatakan tubuh anak kecil tanpa kepala yang ditemukan di selokan di Kota Samalinda pada Minggu (08/12) itu tidak diduga sebagai korban pembunuhan. Kapolsek Samalinda Kompas Arif Buu Diman mengatakan kepada wartawan bahwa bocah itu diyakini sebagai korban pembunuhan. mati setelah “tercebur ke dalam selokan”. Dia menekankan bahwa tidak ada tanda-tanda pembunuhan. Sepasang suami istri mengatakan mayat balita tanpa kepala itu adalah anak mereka, yang menghilang setelah dikirim ke sekolah pendidikan usia dini dua minggu lalu.

Sepasang suami istri Bambang Sulistyo (37 tahun) dan Melisari (30 tahun) mengaku bahwa anak yang ditemukan tanpa kepala adalah anak kandungnya, Yusuf Achmad Ghazali (Yusuf Achmad Ghazali). 22 November. Setelah kegiatan Jannatul Athfaal di PAUD berakhir, mereka mengatakan bahwa mereka menggunakan pakaian terakhir yang dikenakan oleh anak tersebut yang bernama Yusuf. Mengenakan baju kaos merah berlengan hitam dan bergambar tugu monas.

Berdasarkan pemeriksaan sementara, polisi menduga jenazah balita itu adalah Yusuf yang jatuh ke selokan 20 meter dari Polsek. Temukan lokasi balita tanpa kepala dan PAUD Jannatul Athfaal yang dihubungkan oleh pipa drainase Karang Asam Kecil. Ada empat sistem drainase di Samalinda. Semua sistem ini terhubung ke Sungai Mahakam di ketinggian drainase yang berbeda. Kedalaman parit tempat jenazah bayi ditemukan berkisar antara satu hingga dua meter. Sebelumnya, saat Yusuf menghilang, saat Gubernur Bordeaux Jannatul Athfaal menghilang.

Baca Juga : 6 Kasus Pembunuhan Paling Misterius yang Belum Terpecahkan

Situasi di Bordeaux sedang hujan. 16 hari kemudian, seorang mayat tanpa kepala WITA menemukan seorang balita di selokan Jalan Antasari di Samarinda Ulu sekitar jam 05.30 Anak.Minggu (08/12), Waktu Bagian Timur AS (30/5), di saluran drainase Teluk Laron Illil (Jalan Pangeran Antasari II) di Samarinda, Kalimantan, Amerika Serikat Bagian Timur Jenazah anak tanpa kepala ditemukan untuk pertama kalinya. Jenazah warga sekitar bernama Ika (40 tahun). Ika mengatakan, awalnya dia mengira tubuh itu boneka. Namun, setelah dicek bersama suaminya, Ica melihat tubuh balita yang tidak memiliki kepala, kaki, atau lengan.

Kemudian Ika dan suaminya melaporkan ketua RT. Laporan tersebut diteruskan ke Polsek Samalinda Ulu.Satu jam setelah ditemukan, polisi mengevakuasi jenazah ke kamar jenazah RSUD Abdul Wahab Shehari.Pasangan tersebut adalah Bambang. Su Li Si Ti (Bambang Sulistyo) dan 37 tahun tua. Melisari (30 tahun) mengikuti RSUD, Abdul Wahab Syaharie (sekitar 11.00 WITA).Setelah menunggu petugas rumah sakit membersihkan jenazah, WITA melihat jenazah sekitar pukul 16.30 dan mengidentifikasinya sebagai anak hilang.

Pasangan suami istri tersebut mengatakan bahwa jenazah adalah anak kandung mereka yang bernama Yusuf Achmad Ghazali (Yusuf Achmad Ghazali), Bambang Sulistyo dan Melisari mengatakan, Yusuf menghilang setelah menghadiri acara di PAUD Jannatul Athfaal dua minggu lalu.Beberapa guru di sekolah tersebut mengatakan bahwa Yusuf menghilang di kelas setelah bermain dengan enam anak lainnya.

Katanya, semua siswa menunggu orang tuanya untuk menjemput mereka Kepala PAUD Jannatul Athfaal Maldena mengatakan bahwa saat Yusuf dan teman-temannya bermain, mereka luput dari pengawasan guru; ketika Yusuf menghilang, Samalinda terkena pukulan keras. Pada Senin (09/12), terdapat 22 adegan yang menampilkan orang-orang yang terakhir kali aktif bersama Yusuf.Proses pra-rekonstruksi meliputi ruang PAUD menuju lorong.Enam orang pegawai PAUD dilibatkan, termasuk ketua PAUD Mardiana. Dams mengatakan, pekerjaan rekonstruksi untuk memperkuat urutan kronologis awal hilangnya Yusuf.

2. Bapak Membunuh Empat Anak karena Sering Menangis

KOMPAS.com-Beruntung Oktawiranda (25 tahun) warga Desa Muara Fajar, Kecamatan Rumbai, Riau Pekanbaru, segera mengeksekusi anak tirinya MY yang berusia 3 tahun. Peristiwa itu terjadi pada Minggu (29 Maret 2020), sekira di kediaman pelaku WIB. Setelah korban dianiaya, korban meninggal dunia, dipukul di antara hidung dan mulut korban, digigit pipi korban, kemudian diambil tangannya hingga terjatuh dan menabrak dinding kamar mandi. Pelaku sengaja melecehkan anak tirinya karena kesal karena korban sering menangis, dan tidak mau diam. Saat ini, pelaku telah ditahan di Mabes Polri Mumbai atas perbuatannya.

Kepala Humas Polda Pekanbaru Iptu Budhia Dianda mengatakan, kejadian tersebut bermula dari pelaku dan dirinya merasa kesal dengan korban karena kerap menangis dan tak mau berdiam diri. Pelaku kesal karena korban tidak mau diam sambil menangis, kemudian memukul hidung dan hidungnya, menggigit pipinya, lalu meraih tangannya sehingga membuatnya terjatuh dan menabrak dinding kamar mandi. Budia mengatakan kepada Kompas.com pada hari Minggu: “Akibat penganiayaan pelaku, korban meninggal.”

Selesai membunuh korban, pelaku langsung melemparkan tubuh anak tirinya ke semak-semak. Hal itu, lanjut Andri, berdasarkan keterangan pelaku saat penyidik memeriksanya. Setelah mendapat kabar dari pelaku, polisi langsung mendatangi lokasi dan menemukan korban sudah meninggal dunia. Selain itu, para korban yang dievakuasi dibawa ke ruang ritual. Dia berkata: “Tubuh korban dibuang ke semak-semak.”

Andri menjelaskan, kasus tersebut baru terungkap saat ibu kandung korban kembali dari toko dan tidak menemukan anaknya di rumah. Karena tidak melihat anaknya ibu korban langsung menanyakan kedatangan korban pada suaminya. Saat ditanya, dia melanjutkan, pelaku mengaku tidak tahu. Bahkan, korban pulang bersama ayah tirinya. Pelaku bahkan berpura-pura bekerja sama dengan istrinya untuk mencari korban.

Baca Juga : 7 Ritual Budaya Anehdan Mengerikan di Dunia

Andrei mengatakan, karena korban tidak bisa ditemukan, pihak keluarga memutuskan untuk melapor ke polisi sekitar pukul 12.30 WIB. Setelah menerima laporan tersebut, petugas dari Unit Investigasi Kriminal Kepolisian Mumbai dan paman korban menginterogasi Lu Kai. Saat ditanya petugas, Lucky mengatakan bahwa anak tirinya ada di semak-semak. Polisi kemudian mendatangi lokasi dan menemukan bahwa korban sudah meninggal dunia. Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, pelaku pembunuhan adalah ayah tiri korban.Pasalnya, polisi menduga pelaku mengetahui di mana korban ditemukan tewas. Ia mengatakan: “Setelah diperiksa, pelaku mengaku membunuh anak tirinya.” Untuk menjelaskan perilakunya, pelaku telah ditahan di Mabes Polri Mumbai.

3. Seorang anak dipukuli oleh ayahnya karena bertengkar dengan Kakaknya

9 Kecelakaan Fatal Di Jalan Tol

Deni (32 tahun) warga Jalan Lowokdoro di Gang III, Kecamatan Sukhum, Kota Malang, Jawa Timur RT 06 RW 04 bertekad memukuli anaknya sendiri sampai mati. Alasannya sepele, hanya karena korban dan kakaknya bertengkar soal pakaian yang dibeli bibinya dari Yogyakarta. Deni dan istrinya Wati (37 tahun) memiliki dua orang anak, Dina Marselina (8 tahun) dan Kasih Ramadhani (7 tahun). Deni dan Wati bercerai setahun lalu. Vati sendiri kini sudah kembali ke kampung halamannya di Sulawesi. Kedua anaknya tinggal bersama Deni Malang. Penganiayaan Deni terjadi pada Sabtu (21/2/2015) pukul 11.00 di rumah adiknya Nur Aini di Dusun Duwek RT 02 RW 04, Desa Sitirejo, Kecamatan Wajir, Kabupaten Malang.

“ Ketika aku kembali dari lapangan adik aku( Nur Ani) menceritakan kalau kedua anak aku itu nakal dan juga sempat berkelahi Katanya (Nur Ani) berikan kepada anak saya Baju perang adalah oleh-oleh dari Yogya,” katanya. dia berkata. Nur Aini memiliki dua warna berbeda sebagai oleh-oleh. Biru untuk Dina Marselina. Bersamaan dengan itu, kasih sayang Ramadhani diberikan warna pink. “Tapi adiknya (cinta) menginginkan warna biru, bukan pink. Akhirnya dia diambil dari kakaknya. Keduanya berkelahi saat itu.” Danny ditemui usai dimintai keterangan oleh staf media di Malang Said saat tiba. Mabes Polri, Minggu (22 Februari 2015). Ketika Dani mengetahui bahwa kedua anaknya masih memperebutkan pakaian tersebut, dia memarahi kedua anaknya dan memukul Kasi Ramadani dengan bambu setinggi 1,5 meter. Dia berkata: “Karena saudara perempuannya nakal.”

Sejak itu, emosi Dany tak terkendali. Ia terus menerus memukuli anak kesayangannya hingga menjadi hitam kebiruan dengan luka di tangannya.Danny berkata:“ saat itu adik saya ( Nur Aini) marah sebab menghajar anak saya( Kasih)”. Saya tidak tahu berapa kali saya memukuli anak saya.” Saat itu, Deni mengaku lelah setelah itu. kembali dari lapangan. Pakaian hadiah Dina dibuang karena cinta. Dia berkata: “Saya mengalahkannya dan Kasih menangis. Bambu itu patah. Sekitar satu meter atau lebih, saya pertama kali menghancurkannya di pintu dan saya menghancurkan cinta ini.”

Pertama Dani mengalahkan Love di paha. “Karena saya memukuli anak saya adik saya (Eko Hendro) itu memarahi saya. Saya bahkan diusir dari rumah. Saya makin gelisah. Aksi,” ujarnya. Setelah putranya dipukuli, Denis meminta Kasich untuk membasuh mukanya di kamar mandi.Denis mengaku tidak pernah bertengkar dengan putranya. Setelah memukuli anak itu, dia bahkan tidur dengan anak itu. “Aku sayang. Dia minta maaf padaku dan adiknya. Disuruh diantar ke neneknya. Agar haus dan minum. Di pangkuanku. Udaranya dingin. Saat aku di pangkuan, aku minta maaf.” Ucapnya. Denis mengaku menyesal telah bersikap kejam kepada putranya. “Kesepian Karena kita bertiga tidur setiap malam. Makan satu dari tiga mie,” serunya. Kasih meninggal di pangkuan Deni saat mengendarai sepeda motor menuju rumah ibu Dani atau nenek Kasih, Kasiyem.

Dia mengundurkan diri dan berkata: “Ketika dia tiba di rumah ibunya, dia meninggal dengan ditemani oleh seorang dokter. Saya minta maaf. Saya bersedia membayar kejahatan saya terhadap anak itu.”Beberapa barang bukti didapat di Mapolda Malang berupa bambu yang digunakan Danny untuk memukul Casey. Baju dan baju sita yang dikenakan Cassie juga dilindungi oleh Polres Malang. “Pelaku masih menjalani pemeriksaan yang ketat. Kami akan melakukan psikotes. Nur Aini sebagai saksi akan kami panggil untuk dimintai keterangan,” kata Casatres Krim Marang Polres AKP Wahyu Hidayat. Dari pengakuan pelaku, sekitar 20 tembakan dilakukan pada korban. Bambu rusak.

4. Bolos Sekolah, Siswi SMP Tewas Ditangan Ayah Kandung

Virgo Nenohalan (14 tahun) adalah siswi kelas tiga SMP Karis Kot’olin di Desa Nikis, Desa Binenos, Kecamatan Kot’olin, Kabupaten Timor Selatan (TTS). Ayah kandungnya Eduard Nenohalan (39) memukulinya. Kediamannya pada Minggu (22/2/2015).Kapolsek TTS AKBP I Ketut Adnyana Putera menjelaskan melalui KTP Lauren Jehau bahwa Edward menganiaya Virgo sejak Sabtu (21/2) hingga Minggu (2015/2/2) pukul 08.00 (WITA).Akibatnya, Virgo tidak berdaya dan akhirnya meninggal. Jie Howe menjelaskan: “Sebelum Virgo menghembuskan nafas terakhir, dia meminta air kepada ayahnya. Saat itu, Virgo berkata bahwa ayahku tidak bisa lagi minum air. Dia meninggal setelah beberapa saat.”

Jehau mengatakan, sebelum dianiaya, Virgo dikabarkan membolos dengan temannya Popi Nenohalan pada Sabtu (21/2/2015) dan berfoto di Pantai Kot’olin. Virgo dianiaya oleh ayahnya selama dua hari sampai kematiannya.Penganiayaan telah dilaporkan ke polisi Kiy dan kemudian ke polisi TTS. Setelah menerima laporan tersebut, pada Senin (23/2/2015), Kepala Badan Reserse Kriminal Polsek TTS AKP Aria Arista, S. Ikom dan Kepala Urusan Identitas (Kaur), Aipda Lauren Jehau, Brigpol Purwanto, Briptu Polce Thaiboko. Kapolsek Kie, Iptu Jaga Larus dan anggotanya juga mendatangi TKP dan didampingi oleh Dr. Puskemas Panite melakukan identifikasi dan pengambilan jenazah Virgo untuk divisum di puskesmas panite oleh dr.Laura.

Jehau menjelaskan, dari hasil TKP dan otopsi ditemukan tanda-tanda kekerasan. “Akibat otopsi itu dugaan kuat kematian Virgo diakibatkan oleh tabrakan benda tumpul. Untuk memastikan penyebab kematiannya, Virgo harus melakukan otopsi, namun ibunya, Regina Teffi menolak. Jenazah dikembalikan ke RSUD. keluarga untuk dimakamkan. Pelaku sudah diamankan di kantor polisi sistem transportasi, “kata Yehao.Jehau mengakui, keterangan saksi, Eduard Nenohalan menganiaya Virgo sejak Sabtu (21/2) hingga Minggu (22/2/2015) pagi pukul 8.00 WITA. Akibatnya, Virgo tidak berdaya dan akhirnya meninggal dunia.

5. Ayah Memukul Anaknya Sampai Tewas Karena Es Krim

IF, bocah 10 tahun dan RA, 5 tahun, ditemukan tewas oleh ibunya di selokan sekitar sekolah Medan, Minggu (21/6/2020). Kedua anak laki-laki tersebut diduga dibunuh karena penganiayaan R oleh ayah tiri mereka. IF ditemukan sekitar pukul 09.00 saat WIB sedang berbaring telentang, dikabarkan mengalami luka memar akibat benturan dengan benda keras. Bersamaan dengan itu, adiknya RA ditemukan pada pukul 10.00 WIB dari Bank Dunia, di parit sebelah gedung sekolah Globa Prima, berbaring telentang, dilapisi kayu lapis dan karton.

Kisah tragis bermula saat kedua anak itu bertemu dengan ayah tirinya R sekitar pukul 14.00 WIB pada Sabtu (20 Juni 2020). Sejak bulan lalu, R bekerja sebagai kuli bangunan di sekolah tersebut. Kedatangan IF dan sang kakak meminta uang jajan untuk membeli es krim dari ayah tirinya. Kapolres Kota Medan, Campo Riki Ramadan, membenarkan pada Minggu: “Saat itu, ayah tiri korban menolak permintaan tersebut karena tidak punya uang.” Namun diduga R mengabaikan permintaan kedua anak tirinya. Di saat yang sama, IF dan RA telah meminta uang untuk membeli es krim.R yang diduga terlibat emosi membawa kedua anak tirinya ke samping gedung Global Prima dan dipukuli hingga tewas.

F, sang ibu khawatir saat mengetahui kedua anaknya belum kembali ke rumahnya di Gang Ksatria, Kecamatan Kota, Medan. Kemudian, ibu berusia 30 tahun itu menghubungi suaminya dan menanyakan keberadaan kedua anaknya. Saat itu R mengirim pesan ke F jika dia membunuh IF dan RA. R pun menginformasikan lokasi jenazah kedua bocah tersebut. F segera berangkat ke Global Prima School dan ternyata anak pertama sudah meninggal, dia histeris. Ia berusaha menghubungi suami dan suaminya untuk menginformasikan lokasi jenazah kedua anak tersebut.

Muhammad Arif (32 tahun), ayah kandung korban, atau IF, mengaku marah saat mendengar kabar malang itu diteruskan kepada putranya. Arif mengaku sebagai suami pertama dari ibu korban. Setelah perceraian, ibu korban kemudian diketahui telah menikah dan memiliki anak kedua. Hingga akhirnya menikah dengan ayah tiri, ayah tiri tersebut adalah pelaku pembunuhan yang dicurigai tersebut. Dia berkata: “Sangat kesal dan penasaran, saya hanya ingin melihat wajah pelakunya. Saya ditangkap dengan cepat. Kenapa begitu buruk, karena es krim hanya ada dua.” Dia mengaku tidak mengenal pelakunya yang siapa. disebut ayah tiri anak.Sebagai ayah kandung, Arif berharap para pelakunya mendapat hukuman berat karena membunuh anak-anaknya.