texasheritagesociety – Penyebab gempa adalah pergerakan tanah atau kerak bumi. Menurut definisi BMKG, gempa bumi adalah peristiwa yang menyebabkan bumi berguncang karena adanya pelepasan energi secara tiba-tiba, pelepasan energi secara tiba-tiba ditandai dengan pecahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Pergerakan lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan ke segala arah dalam bentuk gelombang seismik, sehingga pengaruh permukaan bumi dapat dirasakan.

Indonesia terletak di Pacific Ring of Fire, dan kawasan ini sering mengalami bencana alam seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Sekitar 90% gempa bumi dan 81% gempa bumi terbesar terjadi di dekat Cincin Api Menurut berbagai penelitian, diperkirakan 500.000 gempa bumi terjadi setiap tahun. Manusia bisa merasakan sekitar seratus ribu jenis. Berikut ini 6 Gempa Bumi Paling Dahsyat yang Terjadi di Indonesia kami rangkum dari berbagai sumber :

6 Gempa Bumi Paling Dahsyat yang Terjadi di Indonesia

1. Aceh (2004)

Aceh (2004)
DW

Gempa bumi Samudra Hindia 2004 terjalin pada jam 08: 58: 53 Waktu Bagian Timur AS pada bertepatan pada 26 Desember 2004, serta pusat guncangan terdapat di pantai barat Pulau Sumatera, Indonesia. Besaran gempa memiliki peringkat intensitas momen 9,1-9,3, dan peringkat intensitas Mercari IX (parah). Ketika lempeng Samudera Hindia didorong ke bawah oleh lempeng Burma, akan terjadi gempa bumi berdaya dorong tinggi di bawah air dan menyebabkan serangkaian tsunami mematikan di sepanjang pantai benua yang berbatasan dengan Samudera Hindia. Gelombang tsunami mencapai 30 meter (100 kaki), menewaskan 230.000-280.000 orang di 14 negara / wilayah, dan membanjiri banyak pemukiman pesisir. Gempa dan tsunami merupakan salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah. Selain Sri Lanka, India, dan Thailand, Indonesia adalah negara yang paling parah terkena dampak.

Ini adalah gempa terbesar ketiga yang tercatat pada seismograf dan durasi sesar terpanjang dalam sejarah (antara 8,3 selama 10 menit). Gempa bumi mengguncang seluruh bumi sejauh 1 sentimeter (0,4 inci) dan memicu aktivitas seismik di berbagai wilayah termasuk Alaska. Pusat gempa terletak di antara Simeulue dan Sumatera. Penderitaan masyarakat dan negara yang terkena dampak telah mendorong negara-negara untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Kontribusi seluruh komunitas internasional untuk bantuan kemanusiaan melebihi US $ 14 miliar (2004). Para peneliti menyebut peristiwa ini sebagai gempa Sumatera-Andaman. Tsunami susulan memiliki banyak nama, termasuk tsunami Samudra Hindia 2004, tsunami Asia Selatan, tsunami Aceh, tsunami Indonesia, tsunami Natal, dan tsunami Boxing Day.

Magnitudo gempa yang tercatat semula adalah Mw 8,8. Pada bulan Februari 2005 itu para ilmuwan merevisi perkiraan kekuatan jadi 9, 0. Meskipun Pusat Peringatan Tsunami Pasifik menerima revisi tersebut, Survei Geologi AS masih tetap 9,1. Kebanyakan studi pada tahun 2006 menyebutkan kekuatan Mw 9.1-9.3. Ph.D. Hiroo Kanamori dari California Institute of Technology percaya bahwa 9,2 megawatt adalah angka yang baik untuk gempa bumi skala ini. Sumber gempa utama kira-kira terletak di Samudera Hindia, 160 kilometer (100 mil) utara Pulau Simeulue. ). Pantai Sumatera Utara, pada kedalaman 30 kilometer (19 mil) di bawah permukaan laut (10 kilometer (6,2 mil) pada awalnya dilaporkan). Zona Sesar Dorong Matahari Tinggi di bagian utara negara bagian itu memiliki panjang 1.300 kilometer (810 mil).

Gempa bumi (diikuti tsunami susulan) secara bersamaan mengguncang Bangladesh, India, Malaysia, Myanmar, Thailand, Singapura, dan Maladewa. Sesar terbuka kedua atau “patahan muncul” menyebabkan dasar laut yang panjang dan sempit naik dalam hitungan detik. Kejadian ini segera meningkatkan tinggi dan kecepatan gelombang, yang menyebabkan kehancuran total kota Banda Aceh di Indonesia.Indonesia terletak di sepanjang Cincin Api Pasifik dan Samudra Pasifik, Pasifik di sepanjang Cincin Api memanjang di sepanjang timur laut pulau-pulau dekat New Guinea, dan Sabuk Alpen membentang di sepanjang wilayah selatan dan barat Sumatera, Jawa, Bali, Flores dan Timor.

2. Nias (2005)

Nias (2005)
BBC

Gempa Sumatera 2005 terjadi pada pukul 23.09 WIB tanggal 28 Maret 2005. Pusat gempa adalah 2 ° 04′35 ″ U 97 ° 00′58 ″ T, 30 kilometer di bawah permukaan Samudera Hindia, Sibolga 200 kilometer barat Samudera Hindia, 1400 kilometer barat laut Sumatera atau Jakarta, kurang lebih Nias dan Simulu Separuh jarak antar pulau. Gempa tersebut tercatat berkekuatan 8,7 skala Richter (catatan BMG Indonesia adalah 8,2), dan getarannya dirasakan pada tahun 1964 hingga Bangkok, Thailand, sekitar 1.000 kilometer jauhnya. Gempa bumi ini mungkin tidak terjadi pada akhirnya Gempa tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh gempa bumi terakhir pada bulan Desember 2004 (gempa bumi Samudera Hindia pada tahun 2004).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bahwa gempa bumi berkekuatan 5 skala Richter di Naas Selatan (Naas Selatan) Sumatera Utara di Sumatera Utara menyebabkan dua kali gempa berkekuatan richter pada Minggu (17/04). Kali, tapi tidak menimbulkan tsunami. , BNPB menyatakan gempa pertama terjadi pada magnitudo 5 skala richter dan kedalaman 10 kilometer pada 01:08 WIB, sedangkan gempa kedua terjadi pada skala 5,1 skala richter dan kedalaman 15 BNPB. informasi data Kepala Pusat Humas Sutopo Purwo Nugroho mengatakan gempa terjadi pada 4 September 2004.

BNPB mengatakan Kepulauan Nias, Mentawai, Siberut, Simeulue serta pulau- pulau di sisi Barat Pulau Sumatera ialah wilayah dengan tingkatan kerawanan yang besar kepada guncangan alam serta tsunami. Masyarakat lokal memiliki kearifan lokal dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami, namun BNPB mengemukakan bahwa hal tersebut harus dibarengi dengan pekerjaan mitigasi bencana yang tepat.Begitu hal itu terjadi, akan muncul peringatan yang menunjukkan kemungkinan tsunami tidak akan terjadi pada akhirnya. Gempa ini mungkin disebabkan oleh gempa bumi terakhir pada bulan Desember 2004 (yaitu gempa bumi Samudra Hindia 2004), yang menewaskan 1.346 orang.

Baca Juga : 7 Preman Legendaris yang Paling Ditakuti di Indonesia

3. Pangandaran (2006)

Pangandaran (2006)
Suara Merdeka

Survei Geologi AS melaporkan bahwa orang-orang di sebagian besar Pulau Jawa mungkin merasakan getaran gempa bumi. Guncangan gempa terkuat terjadi di pesisir pantai Jawa Barat dan Jawa Tengah, seperti terutama Kabupaten Pangandaran berupa guncangan MMI IV-V, Kabupaten Tasik Malaya, Kabupaten Nanchi Anjur, dan Kabupaten Sirakapu. Kemudian ada MMI III-IV di Bandung, Kabupaten Chamis, Kabupaten Cobumen, Banten, Jakarta, Yogyakarta, dan II-III MMI di Jawa Timur. Di Jakarta, getaran ini berlangsung lebih dari satu menit dan menyebabkan gedung-gedung bertingkat tinggi terguncang. Berdasarkan lokasi episentrum dan kedalaman fokus gempa, nampaknya gempa terjadi di zona subduksi yang dipicu oleh pergerakan vertikal (dip-slip) kerak pada dua lempeng benua yaitu Samudera Hindia-Australia dan Eurasia pada kedalaman dari 30 kilometer.

Gempa tersebut memicu tsunami yang melanda Pattuga Barat, Tasikmalaya dan Pangandaran, Chamis, Kabupaten Sirakapu, Kabupaten Kobumen dan Jepang di pesisir selatan Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Pwo Rejo dan Kabupaten Bantul di Kawasan Istimewa Jalan. BMKG menyatakan bahwa kemungkinan akan terjadi tsunami lokal yang akan mempengaruhi pantai tidak lebih dari 100 kilometer dari pusat gempa, hal ini mengindikasikan kemungkinan tsunami skala besar tidak mungkin terjadi, seperti tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Meski begitu, India tetap mengeluarkan peringatan tsunami untuk Kepulauan Andaman di Teluk Benggala. Akibat tsunami pada 26 Desember 2004, pulau-pulau ini mengalami kerusakan parah. Pemerintah Australia juga telah mengeluarkan peringatan kepada Australia Barat dan Pulau Christmas. Pengukur pasang surut Badan Meteorologi di pulau itu mencatat tsunami 60 cm. Namun menurut laporan, tidak ada kerusakan akibat tsunami yang terjadi.

Menurut warga, tsunami terjadi sekitar 15-20 menit setelah gempa. Sebelum tsunami, warga melihat laut mundur 2-3 kali. Hal ini mengherankan bagi masyarakat pesisir karena biasanya tidak merasakan gempa yang kuat. Seorang warga Pangalengan mengatakan, gelombang sedang menuju pantai dengan kecepatan 40 kilometer per jam. Dia juga mengatakan bahwa tsunami setidaknya lebih tinggi 5 meter. Warga lainnya mengatakan, puluhan nelayan basah kuyup akibat ombak besar. Bersamaan dengan itu, sebelum tsunami, warga Cobbmen mendengar kejadian tersebut. Hasil penelitian menunjukkan ketinggian tsunami melebihi 4,8 meter, dan jarak luncur dari daratan sekitar 500 meter.Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), bencana tersebut menyebabkan 668 orang meninggal dunia, 65 orang hilang dan diduga meninggal dunia, serta 9.299 orang luka-luka.

4. Yogjakarta (2006)

Yogjakarta (2006)
Kompas Regional

Gempa Yogyakarta Mei 2006 merupakan gempa tektonik kuat yang mengguncang SAR Yogyakarta dan Jawa Tengah sekitar pukul 57:55:03 pada Sabtu, 27 Mei 2006. Gempa itu 5,9 skala Richter. Survei Geologi AS melaporkan bahwa gempa terjadi pada skala 6,2 skala Richter.Menurut Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, lokasi gempa terjadi pada koordinat 8,007 ° LS dan 110,286 ° BT, dengan kedalaman 17,1 kilometer. Sedangkan menurut BMG, episentrum gempa berada pada koordinat 8.26 ° LS dan 110.31 ° BT dengan kedalaman 33 km yang dilepaskan sesaat setelah gempa. Setelah dilakukan penghitungan data tiap stasiun yang dimiliki oleh jaringan BMG, dari update BMG terakhir diketahui bahwa episentrum berada di 8.03 Lintang Selatan dan 110.32 Bujur Timur (update ketiga), dengan kedalaman 11,3 Km dan intensitas 5,9 SR Mb.

(Magnitude Body) atau setara 6,3 SR Mw (Magnitude Moment). USGS memberikan koordinat 7.977 ° S dan 110.318 E pada kedalaman 35 km. Hasil yang berbeda disebabkan oleh perbedaan metode dan peralatan yang digunakan.Secara umum, lokasi gempa berada sekitar 25 kilometer barat daya Yogyakarta, 115 kilometer selatan Semarang, 145 kilometer tenggara Kalungan Utara, dan 440 kilometer tenggara Jakarta. Meski episentrum gempa berada di laut, namun tidak menimbulkan tsunami. Gempa juga bisa dirasakan di Solo, Semarang, Purworejo, Kebumen, dan Banyumas. Gempa juga pernah terjadi di beberapa kota di Jawa Timur, seperti Nawi, Medien, Kodiri, Trengalek, Magdan, Passetam, Blitar dan Surabaya.Gempa susulan terjadi pada pukul 06:10 WIB, 08:15 WIB dan 11:22 WIB.

Gempa tersebut menyebabkan banyak rumah dan gedung perkantoran roboh, serta peralatan listrik dan komunikasi rusak. Tujuh hari setelah gempa, listrik mati di banyak wilayah Bantul. Gempa juga menutup Bandara Adi Sutjipto karena gangguan komunikasi, kerusakan gedung dan retakan di runway, sehingga transportasi udara untuk sementara dialihkan ke Bandara Achmad Yani dan Bandara Adisumarmo Solo di Semarang.Gempa 27 Mei 2006 diyakini disebabkan oleh Gunung Merapi. Selain itu, kerusakan bangunan masyarakat tempat tinggalnya tidak serius, gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 menewaskan lebih dari 4.000 orang. Selain itu, jumlah bangunan yang rusak ringan, sedang dan berat hanya dalam waktu 57 detik tidak kurang dari 150.000.

Baca Juga : Kasus Artis Yang Menikah Dengan Manajernya

5. Padang (2009)

Padang (2009)
monitor.co.id monitor

Pada tanggal 30 September 2009, gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009 terjadi di pantai Sumatera Barat pukul WIB dengan kekuatan 7,6 skala richter. Gempa terjadi di wilayah pesisir Sumatera, sekitar 50 kilometer barat laut Kota Padang. Guncangan itu menimbulkan kehancuran akut di bermacam area di Sumatera Barat, semacam Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pantai Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Padang Jauh, Kabupaten Forrest Gump, Kota Solok serta Kabupaten Passaman Barat. Menurut data Satkorlak PB, gempa yang menyebar ke 3 kota dan 4 kabupaten di Sumatera Barat tersebut menyebabkan 1.117 orang meninggal dunia, 1.214 luka berat, 1.688 luka ringan, dan satu orang hilang. Sementara itu, 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rusak sedang, dan 78.604 rusak ringan.

Bencana tersebut diakibatkan oleh dua gempa yang terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam dan jaraknya tidak berjauhan. Pada hari Rabu tanggal 30 September terjadi gempa bumi dengan kekuatan 7,6 skala richter, pusat gempa berada di 57 kilometer barat daya Kota Pariaman (Bujur Timur 00.84 LS 99.65), dan kedalaman (fokus) 71 km. Pada hari Kamis tanggal 1 Oktober terjadi gempa bumi berkekuatan 6,8 skala richter yang terjadi di 46 kilometer tenggara Sungaipenuh, yaitu pukul 08.52 WIB dengan kedalaman 24 kilometer. Setelah dua gempa bumi tersebut, serangkaian gempa susulan lemah terjadi. Gempa pertama terjadi di daerah sesar Mentawai (bawah laut), dan gempa kedua terjadi di sesar Semangko di daratan. Menurut laporan, seluruh Sumatera Barat, terutama wilayah pesisir, mengalami gempa kuat sejak gempa pertama.

Menurut laporan, mulai dari Kota Batam, Palembang dan Bangkulu, Pomads Antar, Medan, Kuala Lumpur, Bandar Seri Begawan, Lembah Klang, Abode Tabek, Jakarta, Singapura, Pekanbaru, Jambi, Batam dan tempat-tempat lain juga terkena dampaknya. Menurut laporan, manajer banyak gedung bertingkat di Singapura mengevakuasi staf mereka. Wilayah pesisir Sumatera Barat, Sumatera Utara bagian selatan dan Kabupaten Kairinchi (Jambi) mengalami kerusakan parah. Pada saat yang sama, sebagian atap Bandara Internasional Minangkabau (panjangnya 100 meter) rusak dan tampaknya telah hancur, dan sebagian jaringan listrik bandara juga terputus. Setelah ditutup karena alasan keamanan, bandara dibuka kembali pada 1 Oktober.

Peringatan tsunami dikeluarkan, tetapi peringatan itu segera dicabut, dan ada laporan kerusakan rumah dan kebakaran. Banyak hotel di Padang yang rusak, karena terputusnya komunikasi, perjalanan ke Padang cukup sulit [14]. Korban tewas akibat gempa terus meningkat, dan masyarakat khawatir gempa itu akan menewaskan ribuan orang. Namun, hingga 4 Oktober 2009, angka resmi yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakibatkan 603 kematian dan 343 dilaporkan hilang. Pada 13 Oktober 2009, jumlah korban tewas meningkat menjadi 6.234. Bantuan yang sangat dibutuhkan bagi korban gempa adalah kekurangan obat-obatan, air bersih, listrik dan telekomunikasi, serta evakuasi korban lainnya.

6. Donggala, Palu (2018)

Donggala, Palu (2018)
Liputan6.com

Gempa dan tsunami Sulawesi 2018 merupakan gempa 7,4 MW, disusul tsunami WITA yang melanda pantai barat laut Sulawesi, Indonesia pada 28 September 2018. Pusat gempa terletak 26 kilometer di utara Donggala dan 80 kilometer barat laut Palu, dengan kedalaman 10 kilometer.Di Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Mamuju. Apalagi Kota Samarinda, Kota Balikpapan, serta Kota Makassar, akibat guncangan amat terasa. Gempa tersebut memicu tsunami 5 meter di Palu.Pusat gempa (episentrum) gempa berada di darat dekat Kabupaten Donggala Sirenja. Menurut laporan, di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, sebagian Kalimantan Timur, dan sebagian besar provinsi di Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Utara, semuanya merasakan gempa bumi yang kuat.

Misalnya di Makassar, saya merasakan getaran selama beberapa detik. Di Menara Bosowa, karyawan meninggalkan gedung. Di Palopo, Sulawesi Selatan, warga kaget mengungsi dari rumahnya. Di Samarinda, gempa juga dirasakan hingga menyebabkan warga terpencar-pencar dari gedung dan pusat perbelanjaan. Di Balikpapan, dampak gempa juga dirasakan di apartemen dan hotel.Awalnya, dilaporkan 1 orang meninggal dunia dan 10 orang lainnya luka-luka akibat gempa pertama 6,0 MW pada pukul 15.00 WITA. Namun, jumlahnya meningkat pesat, sehingga jumlah korban mencapai 420 orang. Pada Selasa 2 Oktober lalu, Sutopo melaporkan jumlah korban tewas mencapai 1.234 orang. Jumlah penguburan yang dilaporkan masyarakat mencapai 152.

Yang terluka dibawa ke rumah sakit untuk perawatan cepat. Korban yang tewas dan luka-luka adalah korban robohnya bangunan. BPBD Kabupaten Donggala juga menyebut puluhan rumah rusak akibat gempa.Bersamaan dengan itu, akibat gempa 7,4 MW akibat tsunami di Palu, hingga Sabtu 29 September 2018, WITA 15.00, jumlah korban tewas mencapai 844, lebih dari 500 orang luka berat, 29 orang hilang, dan sebanyak-banyaknya. Sebanyak 65.733 orang menurut Kapendam Kodam XIII Menurut Kolonel (Inf) M Thohir dari Koran Independen, rumahnya rusak. Di tengah tsunami Pantai Talise, orang hilang termasuk satu keluarga hingga lima orang. Dari lebih dari 400 orang yang meninggal, hanya 97 yang dikonfirmasi. Banyak tempat yang rata dengan tanah. Sepanjang cakrawala, diselimuti batang kayu, pepohonan, dan atap berserakan. Akibat gempa tersebut, jalan raya juga dilanda longsor. Menurut Kompas yang mengutip laporan saksi, banyak jenazah tergeletak di pantai.

Menurut laporan, kematian korban serius. Menurut laporan, tubuh itu bercampur dengan pecahan material yang berserakan.Menurut laporan, seorang warga Korea Selatan hilang dalam bencana tersebut. Menurut laporan, dia menelepon pada pukul 16:50 dan dia tidak menjawab panggilan tersebut. Orang Indonesia yang pergi bersamanya juga tidak bisa dipanggil.Akhirnya, setelah BNPB mengumumkan pada 10 Oktober lalu bahwa korban tewas akibat gempa mencapai 2.045, diketahui Pulau Palu memiliki jumlah korban tewas terbesar yakni 1.636, disusul Sigi dan Parigi. Sementara itu, 82.775 orang mengungsi dan 8.731 pengungsi berada di luar Sulawesi.