7 Kasus kriminal di Indonesia masih menjadi misteri sampai sekarang

 

texasheritagesociety – Kriminalitas adalah asal mula istilah “kejahatan”. Istilah “kejahatan” mengacu pada kejahatan. Tingkah laku kriminal bisa juga kejahatan, jadi itu adalah tingkah laku yang negatif. Biasanya tindakan tersebut merugikan banyak pihak, dan pelakunya disebut kriminal.Tidak semua kasus di negara tersebut telah terselesaikan secara tuntas. Beberapa dari mereka masih menyimpan misteri yang belum terpecahkan. Kasus tersebut mencakup serangkaian kasus pidana dan pidana.Banyak kasus masih menggantung yang tidak ada keputusan.

Berikut ini 7 Kasus kriminal di Indonesia masih menjadi misteri sampai sekarang kami rangkum dari berbagai sumber :

7 Kasus kriminal di Indonesia masih menjadi misteri sampai sekarang

 

1. Kasus pembunuhan Marsinah (1993)

Kasus pembunuhan Marsinah (1993).
Merdeka.com

Suara.com -Aktivis dan pekerja di PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo, Jawa Barat, Jawa Timur, ditemukan tewas mengenaskan di hutan yang terletak di Dusun Jegong, Wilangan, Nangjuk, Jawa Timur. Setelah demonstrasi menuntut kenaikan gaji, tubuhnya ditemukan pada 8 Mei 1993 atau 26 tahun lalu.Kematian Marsinah masih belum terpecahkan. Sebelum ditemukan tewas, Marsinah memimpin aksi unjuk rasa oleh para pekerja PT CPS. Mereka meminta kenaikan gaji dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 per hari sesuai instruksi Gubernur KDH TK I Jawa Timur, sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Nomor 50 Tahun 1992.Pada tanggal 3 Mei 1993, sebanyak 150 dari 200 pekerja yang bekerja di pabrik arloji melakukan pemogokan. Di usianya yang ke 24, Marsinah berada di garda terdepan dalam mengungkapkan bahwa hak-hak pekerja tidak pernah terwujud.

Pemogokan itu berlangsung selama dua hari. Keesokan harinya, manajemen perusahaan mengumpulkan 15 perwakilan untuk mediasi. Meski melalui proses mediasi yang telaten, akhirnya perusahaan setuju untuk memenuhi semua tuntutan para pekerja.Marsinah dan ratusan pekerja lainnya yang bekerja keras untuk menyatakan haknya berakhir dengan akhir yang menggembirakan: perusahaan memberikan hak kepada mereka. Perusahaan setuju untuk menaikkan gaji pokok sebesar 20% sesuai dengan ketentuan, namun kabar baiknya adalah pihak TNI akan memanggil 10 pekerja PT CPS. Orang yang dipanggil adalah pekerja dengan suara paling keras selama demonstrasi. Mengetahui hal tersebut, Massina datang menemani teman-temannya.Dalam pertemuan dengan pejabat Kodim, para pekerja diminta mengundurkan diri dengan alasan perusahaan sudah tidak membutuhkan tenaga lagi. Kalaupun diancam, Massina tidak takut, dalam pertemuan itu parasit buruh membubarkan diri.

Pekerja lainnya memutuskan untuk pulang ketika Masina berpamitan pada makan malam.Tidak disangka, inilah kali terakhir para pekerja bertemu dengan Masina. Sejak malam itu, Marsinah menghilang selama 3 hari.Sejauh ini, kasus pembunuhan terhadap Massina belum terselesaikan. Pihak berwenang membentuk tim terpadu dan menangkap delapan pejabat senior PT CPS. Penangkapan tersebut dianggap melanggar prosedur hukum karena dilakukan tanpa surat perintah penangkapan, dan mereka disiksa hingga mengaku telah melakukan pembunuhan terhadap Massina. Pemilik PT CPS Yudi Susanto juga ditangkap. Baru 18 hari kemudian, petugas PT CPS itu ditemukan diganggu oleh Polda Jatim, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan staf lainnya divonis 4 hingga 12 tahun. Selama proses banding di Pengadilan Tinggi Yudi dibebaskan.

Di tingkat Mahkamah Agung, Mahkamah Agung membebaskan semua tergugat atau sepenuhnya membebaskan mereka. Banyak yang menyayangkan dan menduga penyidikan itu ulah manusia.Setelah 26 tahun, kasus Massina belum juga terselesaikan. Dalang pembunuhan Marsinah tidak diketahui. Perjuangan Marsinah melawan ketidakadilan kini menjadi sejarah, dan ia dikenal sebagai pahlawan buruh.

2. Kasus pembunuhan wartawan bernama Udin.

Kasus pembunuhan wartawan bernama Udin.
Merdeka.com

Fuad Muhammad Syafruddin (32 tahun) biasa dipanggil Udin. Reporter Harian Berners (SKH) terbitan Yogyakarta menjadi korban rezim Orde Baru. Alasan mengapa Uddin “menghilang” adalah karena pekerjaannya mengganggu perwira kolonel Bantul Sri Rosso Sudamo, penguasa bupati, Sri Rosso pada tanggal 2 Juli 1999 Dihukum 9 bulan penjara. Kasus suap Yayasan Dharmais senilai 1 miliar rupiah yang dikelola Presiden Soeharto. Ia berjanji, jika diangkat kembali sebagai Bupati Bantul dari tahun 1996 hingga 2001, uang itu akan digunakan sebagai hadiah. Pernyataan tersebut dituangkan dalam surat bersegel yang dikirimkan ke yayasan oleh R. Noto Suwito, adik Soeharto.Pria kelahiran Bantul 18 Februari 1964 ini disiksa oleh orang tak dikenal di sekitar rumah Dusun Gelangan Samalo Km 13 Yogyakarta Jalan Palangritis dan menggunakan batang besi pada Agustus 1996. Meninggal dunia pada tanggal 16, meninggal tahun 1650 dan memukul kepalanya di Rumah Sakit Bethesda. Setelah tidak sadarkan diri akibat gegar otak, akhirnya Udin menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.

Kabarnya, Edy Wuryanto, penyidik Polres Bantul, saat itu adalah Sersan (Serka) di Yogyakarta. Ia sibuk menangani barang bukti di Yogyakarta, yakni meminjam darah dan mengambil barang bukti. Buku catatan Udin berfungsi sebagai bukti. Lakukan investigasi dan investigasi. Kemudian, Edy pindah dari Mapolda Bantul Yogyakarta ke Mabes Polri, dan pihak-pihak tertentu berusaha mengalihkan kasus hukuman mati Uddin. Seorang perempuan, Tri Sumaryani, mengaku jika ingin mengakui Udin melakukan hubungan asmara dengannya, akan mendapat imbalan. Kemudian dia dibunuh oleh suaminya karena selingkuh.

Jenazah Udin dilepasliarkan dan dimakamkan di Pemakaman Umum Trirenggo Bantul pada 17 Agustus, saat masyarakat Indonesia merayakan HUT ke-51 kemerdekaan Republik Indonesia. Sejumlah pejabat seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jawa Tengah-DIY, dan sejumlah pejabat pemerintah menuntut pengusutan kasus Udin secara tuntas. Siapapun yang terlibat dalam kasus ini harus ditangani secara hukum, dan semua pihak berusaha menutupi pembunuhan Udin. Sekitar jam 20. 00 Wib bertepatan pada 19 Agustus 1996, Serma Edy Wuryanto dengan didampingi 2 anggota Polsek Bantul pergi dari Mabes Polres Bantul mengarah kedemian orang tua Udin di Gedongan Trirenggo Bantul. Mereka berencana untuk meminjam sisa darah dari operasi Udin, yang tidak akan dikuburkan dengan tubuh Udin.

Pada 26 Agustus 1996, sekitar pukul 09.00 Waktu Bagian Timur AS, 13 hari setelah pembunuhan Uddin, TKP di rumah Uddin ditutup oleh polisi. Kemudian, Kepala Bidang Sosial dan Politik (Kassospol) ABRI Syarwan Hamid di Jakarta saat itu menegaskan bahwa anggota ABRI yang diduga terlibat dalam kasus Udin akan ditindak tegas.Namun anehnya, setelah pernyataan Syarwan Hamid muncul, sekitar pukul 10.30 WIB, The Polisi mencabut garis polisi di rumah TKP Udin. Oleh karena itu, penjagaan ini dipasang hanya 25 jam setelah pemasangan untuk penyelidikan.Pada 2 September 1996, Mayjen Harimas, Kapolsek DIY Provinsi Jawa Tengah, mengatakan bahwa polisi sudah memahami betul para pelaku pembunuhan Udin. Sehari kemudian, mantan Menteri Dalam Negeri TNI (purnawirawan) Rudini menyatakan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X (Sri Sultan Hamengkubuwono X) harus memanggil dan melapor ke Soros Sudar, Bupati Bantul Mo mengungkapkan. Kericuhan institusi hukum yang dipimpin Kapolda Yogyakarta 16 tidak bisa menyelesaikan kasus pembunuhan jurnalis.

Baca Juga : Skandal Terbesar di Dunia Sepak Bola Internasional

3. Kasus pembunuhan Munir.

Kasus pembunuhan Munir
Merdeka.com

Munir meninggal dalam penerbangan ke Amsterdam pada 7 September 2004. Pesawat mendarat di Bandara Schipol Amsterdam (Bandara Schipol) pada 08.10 waktu setempat dan meninggal dua jam yang lalu. Autopsi oleh polisi Belanda dan Indonesia menemukan Mu Neil meninggal karena keracunan arsen. Sehabis pelacakan polisi memutuskan kalau angkasawan Garuda Indonesia Pollycarpus Budihari Priyanto jadi terdakwa pembantaian pada 18 Maret 2005 , majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan bersalah dan menjatuhkan hukuman 14 tahun penjara pada 12 Desember 2005. Pollycarpus telah dibebaskan dari penjara. Namun, kasus Munir masih menyisakan banyak persoalan yang belum terselesaikan. Lima poin yang dirangkum Tempo pada peringatan 16 tahun pembunuhan Munir.

Motif pembunuhan Munir sebenarnya masih misterius. Ada dugaan Munir dibunuh karena memiliki data penting tentang pelanggaran HAM, seperti kasus Tarangesari, penculikan aktivis HAM 1998, dan kampanye hitam Pilpres 2004. Mengenai motif pembunuhan tersebut. Suciwati menirukan “Majalah Tempo” (Majalah Tempo) 8 Desember 2020 mengutip Biha yang mengatakan: “Sebelum berangkat, periksa kasus-kasus utama yang ditangani almarhum.” Biha meninggal dunia di China pada 1 Juli 2009. Belum ada penjelasan akhir. untuk alasan. Kematiannya. Menurut Suciwati, setelah kematiannya, Bijah rutin menghubungi Munir. Dia berkata: “Setiap Le Baran akan meminta maaf padanya.”

Menurut kabar, setelah menyelesaikan misi pembunuhan Munir, Polly Capus melaporkan perbuatannya kepada Kolonel Budi Santoso, Wakil Direktur Perencanaan dan Pengendalian Operasi Badan Intelijen Negara. Budi mengatakan: “Katanya dia menangkap ikan besar di Singapura.” Menurut pemberitaan majalah Tempo edisi 8 Desember 2014, kata Budi dalam catatan bersaksi kepada penyidik di Kuala Lumpur pada 7 Mei 2008. Budi harus bersaksi di luar negeri karena sudah mendapat kabar bahwa ia akan tamat saat pulang ke kampung halaman. Budi Santoso mengatakan, pihaknya menggelar rapat internal untuk membahas Munir. Konon direktur Imparsial akan membawanya ke Belanda untuk melakukan penelitian hukum di Universitas Utrecht dan menjual datanya ke negara tersebut. Budi berkata: “Hendu Priyono meminta upaya Munir dihentikan.”

A.M Hendropriyono, Kepala BIN 2001-2004, membantah organisasinya menyasar Munir. Ia mengatakan: “Munir bukan orang yang berbahaya.” Hendro mengatakan, pada 2004, Munir bahkan bergabung dengan Presiden Megawati Soekarnoputri (Megawati Soekarnoputri) yang dekat dengannya.) Pemimpin Benteng PDI Perjuangan. Pelaku utama kasus ini. Contras yakin bahwa dalang pembunuhan itu berasal dari kalangan berpengaruh dan belum dibawa ke pengadilan. Peneliti Kontras Rivanlee mengatakan pada Senin, 7 September 2020: “Hal ini membuat publik mempertanyakan komitmen pemerintah dalam melindungi para pembela HAM.”Panitia Aksi Solidaritas Munir dan perwakilan 11 organisasi mendatangi Komnas HAM untuk mengajukan legal opinion atas kasus Munir. Mereka menegaskan status kasus tersebut akan diubah menjadi pelanggaran berat hak asasi manusia.

4. Menghilangnya 13 aktivis.

Menghilangnya 13 aktivis.
Kompasiana.com

Di akhir rezim Orde Baru, Presiden Soeharto menculik 22 militan. Saat itu, sebagian besar kritikus Indonesia mendesak institusi militer berani bertanggung jawab. Namun, hingga hari ini, 13 aktivis masih belum mengetahui keberadaan hutan tersebut, namun penyelesaian kasus tersebut terputus di tengah jalan. Tim Mapra tidak bisa dibentuk di bawah Kopassus Grup IV atas perintah langsung dan tertulis Prabowo, tapi tidak dibawa ke Pengadilan HAM. Banyak pihak juga mendesak pemerintah membentuk tim secara resmi untuk mencari 13 orang tersebut. Tim harus berusaha mengumpulkan informasi dari intelijen, militer, dan polisi. Dengan cara ini, kesimpulan yang dapat ditarik adalah situasi saat ini dan mereka saat ini.

Hal senada juga diungkapkan anggota ketiga DPR Masinton Pasaribu. Dia mengaku mengetahui 13 militan yang telah diculik dan hilang sejauh ini. Salah satu orang yang sering dia temui di forum dan parade adalah Wiji Thukul. Karena itu, dia berharap pemerintah bisa mencari keberadaan sebenarnya atau di mana mereka dibunuh.Meski mundur ke masa lalu, pemerintah membentuk Dewan Kehormatan Resmi (DKP) melalui Panglima TNI Wiranto saat itu. Bersamaan dengan itu, pada (3/7/1998) Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Subagyo Hadisiswoyo dilantik sebagai ketuanya. Hasil DKP kemudian disetujui Wiranto.

Pada saat yang sama, Letjen Pangkostrad Prabowo Subianto dan Danjen Kopassus Mayjen Muchdi Purwopranjono menerima persidangan tertutup. Keduanya dituduh menculik sejumlah militan selama 1997-1998. Lebih buruk lagi, peradilan memiliki kekuatan politik. Hingga akhirnya tidak ada yang mengetahui alasan mendasar terkait hasil putusan hakim tersebut. Putusan tersebut menjatuhkan sanksi administratif berupa pemberhentian Prabowo dan Muchdi. Setahun kemudian, Komite untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menunjukkan bahwa itu diadakan (6/4). / 1999). Sidang pengadilan militer. Ada 11 terdakwa dalam tim Mawar. Putusan pengadilan ini hanya dituntut sebagai pelaku tindak pidana perampasan kemerdekaan, sama dengan perkara nomor PUT di Pengadilan Tinggi Militer Kedua (Mahmilti) Jakarta. 25-16 tahun / K-AD / MMT-II / IV / 1999, mengumumkan pembubaran total.

Ke-13 aktivis yang diculik dan dihilangkan sengaja diabaikan oleh pengadilan. Tidak ada tanggung jawab terhadap mereka atau keluarga korban. Komnas HAM sudah mengirimkan berkas pelanggaran HAM, tetapi ditolak oleh Jaksa Agung Soedjono Chanafiah Atmonegoro. Komnas HAM kemudian mengusulkan agar dibentuk tim investigasi nasional untuk kasus ini. Sayangnya, tim tersebut tidak pernah terbentuk. Setelah 7 tahun bekerja keras, Komnas HAM melakukan investigasi wajar terhadap kasus tersebut dan mengambil tindakan. Hasil penyidikan mengharuskan kejaksaan menindaklanjuti hasil penyidikan. Hasil investigasi tersebut kemudian diserahkan ke DPR dan Presiden BJ Habibie untuk membentuk pengadilan HAM ad hoc. Selain itu, mengupayakan kompensasi, kompensasi dan rehabilitasi bagi para korban dan keluarganya.

Afendi langsung menyampaikan rekomendasi Pansus Orang Hilang (28/9/2009) di rapat paripurna DPR. Jabatan tertentu di Pansus merekomendasikan agar Presiden Megawati Soekarnoputri membentuk pengadilan HAM ad hoc. Ia lantas mendesak pemerintah segera melakukan penggeledahan tubuh terhadap 13 orang yang dinyatakan hilang tersebut. Selain itu, ia juga meminta pemerintah memulihkan dan memberikan santunan kepada keluarga korban. Kemudian mendorong pemerintah untuk meratifikasi “Konvensi Pemberantasan Penghilangan Paksa”, yang merupakan komitmen untuk menghentikan penculikan dan penghilangan paksa. Kejahatan manusia yang dilakukan oleh tim Ross pada rapat umum diabaikan oleh garis yuridis yang ambigu. Menurut laporan Panitia Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia (PPOSP) 1997-1998, kelompok Mawar paling bertanggung jawab atas penculikan puluhan aktivis.

Baca Juga : Negara “Mapan” Paling Korup Yang Ada di Dunia

5. Kasus kematian Salim Kancil.

Kasus kematian Salim Kancil
Beritagar

Pembunuhan Salim Kancil penuh vitalitas. Dimulai dengan kritik terhadap tindakan lamban polisi, hingga kesan buruk terhadap aparat desa, hingga serangan teroris terhadap pelapor yang menutupi Lumajang.Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan organisasi kemanusiaan dan lingkungan lainnya ramai mengkritisi pembunuhan Salim. Mereka menuntut penegakan hukum yang seadil-adilnya dari para pelaku, dan menuntut negara lebih tegas menindak praktek-praktek penambangan liar.Jangan lupa, di era konflik tanah yang semakin meningkat, perlindungan lingkungan hidup juga harus diperkuat. Kedudukan mereka semakin berbahaya karena, seperti yang dialami Salim Kancil, nyawa mereka dipertaruhkan. Di banyak negara, Salim Kancil-Salim Kancil lainnya mengalami nasib yang sama.

Global Witness, sebuah lembaga swadaya masyarakat di bidang pembangunan anti lingkungan, menjelaskan bahwa pada tahun 2016, setidaknya terdapat 200 pembunuhan pencinta lingkungan di 24 negara. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, data menunjukkan tren yang meningkat, Amerika Selatan memiliki jumlah pembunuhan oleh aktivis lingkungan tertinggi di dunia. Di Brasil yang menempati urutan nomor satu, 29 pencinta lingkungan tewas akibat teror pada 2014, tak jauh dari pertambangan, agribisnis, dan pembalakan liar. Investor menjalin kemitraan dengan preman bayaran untuk meredakan antusiasme warga yang ingin menghentikan pembalakan liar dalam proses pembukaan lahan atau industri perkayuan.

Saksi mata di seluruh dunia mengatakan bahwa pembunuhan militan sering terjadi di daerah terpencil. Jika sistem peradilan pidana lokal tidak menindaklanjuti kasus-kasus sebelumnya, jumlah ini akan bertambah, dengan kata lain pelaku penyerangan terhadap aktivis lingkungan akan menjadi berani karena dianggap tidak menghadapi konsekuensi yang jelas dan ditentukan. Pemerintah daerah biasanya bekerja sama dengan pemilik tambang atau perusahaan besar. Mereka secara otomatis berkontribusi pada penghapusan pencinta lingkungan, dan petani kecil sering kali merugi ketika mereka menghasilkan banyak uang. Mereka yang mencoba membela ditutup.

6. Kasus Pak De dan model cantik era 80-an Dietje.

Kasus Pak De dan model cantik era 80-an Dietje
Amedz Share| Blog Dofollow – blogge

Kematian Dietje adalah berita besar. Orang yang biasa disapa Bade adalah tersangka pembunuhan. Nama aslinya Muhammad Siradjudin (Muhammad Siradjudin), mantan asisten letnan. Menurut polisi, ia juga dituduh membunuh Pad (Dak De) Endang Sukitri di Depok demi uang. Kasus ini menewaskan Ditje. Konon menurut polisi, Patek adalah dukun yang bisa melipatgandakan uang. Pak De merasa tidak membunuh Ditje, maka dia membantah gugatan tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Bade mengakui, klaim BAP bahwa dia dibunuh hanya karena dia tidak tahan disiksa.

Mun’im Idries yang menemukan jenazah Endang di Debord terluka tak bersenjatakan senjata tumpul, mengaku pernah dipanggil ke Kejaksaan Negeri Bogor. Pengadilan kemudian menghukum Muhammad Sirajuddin dan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Permohonannya sia-sia, tetapi dia terus bersikeras bahwa dia tidak bersalah. Bahkan ketika Presiden B.J. dibebaskan, Habibie berkuasa, dan Tuan De melakukan peninjauan kasus atas pembunuhan yang tidak dilakukannya. Dia tidak lagi menginginkan kebebasan, dia telah ditahan selama dua belas tahun. Dia merasa bahwa reputasinya yang baik harus dibersihkan. Selama Soeharto lengser.

Menurut Pak De, beberapa hari sebelum meninggalnya model Bandung, Ditje bercerita bahwa dia pernah bertengkar dengan Suwoto Sukendar di rumah kontrakannya di Kebayoran Jalan Tumaritis pada 4 September. Dia mengatakan bahwa marshal itu cemburu dan melarang Dieter untuk berpartisipasi dalam pertunjukan di Hotel Borobudur.Meski begitu, Pak De menegaskan: “Saya tidak bisa menyimpulkan bahwa Sukendar menembak. Saya tidak berani memfitnah dan berbuat dosa.”

7. Kasus kematian Akseyna

Kasus kematian Akseyna.
Grid Hot – Grid.ID

Akseyna Ahad Dori, siswa Srata Satu UI dari Sekolah Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), mengambil jurusan biologi pada tahun 2013, dan kini kembali ke jajaran kreator. Sayangnya kepergiannya yang kekal masih menyisakan misteri: pada 26 Maret 2015, ia ditemukan terapung di Danau Kinanga di Universitas Indonesia. Saat ditemukan, ia mengenakan kemeja hitam lengan panjang dan tas berwarna coklat. Ada lima batu di tas sekolahnya, yang kemudian ditemukan adalah Akseyna Ahad Dori (Akseyna Ahad Dori), siswa Srata Satu UI di Sekolah Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) jurusan biologi tahun 2013.

Polisi awalnya menduga Ace adalah nama panggilan Aksyena Ahad Dori dan meninggal karena bunuh diri. Setelah memeriksa 15 orang saksi, ia menulis surat di kamar kost Aksyena yang berbunyi: “Tidak akan kembali selamanya, tolong jangan dicari keberadaannya, saya minta maaf untuk semuanya”, sehingga menarik kesimpulan. Surat ini diserahkan ke polisi oleh orang tua Aksyena, Mardoto. Mardoto mengaku menerima surat dari teman Aksyena Jibril dari Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas sekitar pukul 16.00 WIB pada Senin, 30 Maret 2015. Indonesia. Dua orang dosen biologi menyaksikan penyerahan “surat” tersebut, dan Maldotto yakin bahwa surat itu bukan ditulis oleh putranya. Ia mengaku telah memperhatikan teks dalam surat tersebut. Pihak keluarga percaya bahwa ada beberapa kejanggalan dalam “surat” tersebut.

Maldotto juga menuturkan, sejak ditemukan jenazah di Danau Kinanga, Universitas Indonesia pada Kamis, 26 Maret 2015, kondisi ruang Aksina tak lagi steril selama empat hari. Beberapa teman korban mendatangi kamar Akseyena beberapa kali. Bahkan, seorang teman Ace masuk ke kamar Ace dan menginap di kamar itu pada malam Minggu tanggal 29 Maret 2015. Setelah ibu Ace mencoba menghubungi ponsel Ace pada malam Minggu tanggal 29 Maret 2015. Saat itu, Ibu Ace berkesempatan untuk berbincang dengan orang yang mengaku sebagai teman Ace.Menurut Mardoto, terlalu banyak orang yang masuk ke kamar Ace, dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang-orang ini tidak akan berbuat apa-apa sampai pembunuhan Aksyena Ahad Dori berumur lima tahun. Polisi gagal menangkap pembunuhnya. Informasi terakhir yang disampaikan Kapolres Kombes Asep Adi Saputra masih dalam penyelidikan. Sejauh ini, sebanyak 28 orang sudah dimintai keterangan sebagai saksi.